2013/04/16

[SHORT STORIES] Terror of the Drama

Rean here *psycho mode*
Udah lama ga nge-post story di sini.
Terakhir? Sekitar 2 taon yang lalu tentang fan fiction MIPMO .__.
Karena ore masih newbie, minta kritik plus sarannya yah ._.
Sorry kalo rada2 gaje plus ga ada relate-nya sama logic ,__,"
Well, here we go!

Drama of Terror

Sebuah pembantaian massal di sebuah sekolah baru saja terjadi.
Aku, Hilda akan menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Saat itu, aku yang masih di kelas 10 diundang oleh kakak kelas 12 yang akan merayakan pesta kelulusan berupa sebuah pertunjukan drama. Drama itu bercerita tentang pembunuhan juga, aku duduk di bagian antara tengah dan belakang. Di sebelahku, semuanya kakak kelas 12. Mungkin hanya aku yang diundang oleh mereka karena aku anak paling pintar se-angkatanku.
Kakak kelas 12 sering memintaku untuk membantu pelajaran kelas 10 yang mungkin mereka sudah lupa sebelum UN, aku menuruti permintaan mereka agar aku bisa melihat sebuah pertunjukan yang akan dipentaskan oleh sebagian dari mereka setelah pesta kelulusan yang sebenarnya. Sebuah pertunjukan yang hanya ada kelas 12 sebagai penontonnya, tak ada guru dan pengurus OSIS yang terlibat dalam urusan ini…
Mereka menepati janjinya; memberikan sebuah akses menonton pertunjukkan rahasia mereka kepadaku. Setelahnya, aku sangat bersemangat untuk menonton sebuah pertunjukan drama seperti Hamlet ataupun Romeo & Juliet. Atau mungkin… Phantom of the Opera? Dan aku harus menepati janji mereka juga agar isi dari pertunjukkan tersebut tidak diketahui oleh siapapun.
13 Juni, hari saat pertunjukkan itu berlangsung. Kelas 10 dan 11 sudah menyelesaikan UAS-nya. Karena bersifat rahasia, maka salah satu kakak kelas 12 yang tinggal dekat denganku mengajakku pergi bersamanya dengan mobil. Dengan gaun hijau mudanya yang terlihat elegan, mungkin ia akan mengajakku ke sebuah prom di ballroom hotel. Aku bahkan belum mengenal ia sekalipun karena dia baru saja pindah rumah ke sini.
Tak ada siapapun di rumahku, hanya aku. Kemarin, sang kakak ada di rumah. Ia meninggalkan rumah sebelum jam 6 pagi hari ini, karena akan melakukan pendakian ke Gunung Gede. Sedangkan kedua orangtuaku sedang ada tugas ke luar kota.
Namanya Tiana, ia terlihat baik-baik saja. Namun, aku mulai heran mengapa ia tiba-tiba menjadi suram saat ia akan mengantarku ke sekolah bersamanya. Di perjalanan, aku tidak pernah berbicara dengannya.
***
Pertunjukan dimulai jam 8 malam.
Sesampainya di auditorium sekolah, kakak kelas yang mengantarkanku langsung pergi dan aku segera masuk ke auditorium. Aku duduk di kursi dekat pintu keluar auditorium. Di sebelah kiri-kananku belum ada penonton yang duduk.
5 menit telah berlalu, pertunjukkan drama pun dimulai. Dimulai dengan dentingan organ pipa yang terdengar aneh di telingaku, sebagai efek musik dari babak pertama drama yang berjudul “Assassinator”. Adegan pembukanya berupa seorang gadis yang sedang bernyanyi sopran sebuah lagu berjudul Habanera yang menjadi salah satu lagu di opera Carmen. Setelahnya, seorang cowok dengan tuxedo-nya berteriak dari sebelah kanan panggung, “Marlene, jangan bernyanyi lagi! Kau telah membuat penyakit kakakmu kambuh akibat nyanyian sopranmu itu!”
Gadis itu bernama Marlene, sedangkan cowok bertuxedo itu bernama Antonio. Aku kenal dengan wajah kedua pemeran itu. Senior Ami, berperan sebagai Marlene, dan Gilbert berperan sebagai Antonio. Mereka berdua adalah pasangan populer di sekolah. Setiap kali ada pertunjukan drama, mereka selalu dijadikan pasangan.
Drama ini berkisah tentang Marlene, penyanyi opera muda yang baru saja direkrut oleh teater. Suaranya yang indah yang membuat ia banyak dipuji orang. Namun bagi kakaknya, Geraldine yang sakit jiwa setelah pacarnya dibunuh tidak suka mendengar suara indah Marlene karena itu berupa sebuah pertanda peristiwa tak menyenangkan.
Ini sudah 10 menit pementasan. Porsi narasinya sepertinya cukup banyak daripada nyanyian atau dialog antar tokoh. Kemunculan Antonio yang mendadak membuat suasana auditorium menjadi hening.
“Aku sedang latihan untuk pentas besok! Banyak bangsawan yang akan melihatku pada malam itu, kau seharusnya juga mendukung karir baruku ini!”
Antonio mulai geram. “Aku mendukungmu, Marlene. Tetapi aku lebih menyayangi kakakmu daripada kau! Kau seharusnya berterima kasih kepadaku pada saat itu!”
“APA?! ANTONIO! ITU ALASANNYA MENGAPA KAU TIDAK TAHAN DENGAN SUARA INDAHKU INI DEMI KAKAKKU?!” jawab Marlene dengan nada kasar.
“BAIKLAH! Mulai sekarang aku mendukung kakakmu daripada kau. Sebagai bayarannya, aku akan memberikanmu sebuah hadiah perpisahan!” sambung Antonio sambil mengeluarkan sesuatu di kantung tuxedo-nya, berupa pistol kecil.
Para penonton mulai tegang saat Antonio mengeluarkan pistol yang diduga akan digunakan untuk membunuh Marlene.
DOR! Antonio menembak Marlene tepat di dekat jantungnya. Yang kulihat hanyalah angin kecil dan kudengar suara pistol yang keras.
“TIDAAAAK!” teriak Marlene di detik-detik terakhir sebelum kematian mendadaknya.
Marlene terjatuh seketika. Tunggu! Aku melihat sebercak mirip darah di gaunnya! Apa ini? Sebuah awal dari drama yang bercerita peristiwa pembunuhan massal? Aku menghiraukannya, mungkin ini cuma efek.
Penonton terkejut setelah Marlene ditembak oleh Antonio. Tak lama kemudian, tirai panggung tiba-tiba ditutup. Mereka masih menghiraukannya untuk pergantian babak dan setting panggung. Saat itu juga, aku langsung menuju toilet untuk buang air.
***
Saat aku memasuki toilet, aku melihat senior yang lain. Senior yang memakai gaun oranye dengan flat shoes-nya dengan warna yang serasi terlihat terkejut.
“Sebaiknya, kau jangan kembali ke bangkumu!” ia berkata dengan pelan dan ketakutan.
“Apakah pertunjukan drama itu adalah, sebuah pembunuhan?” aku bertanya kepadanya dengan sedikit keraguan.
Tiba-tiba, aku mendengar bunyi pistol lagi. Sepertinya itu berasal dari dalam auditorium, mirip sniper. Sniper itu berbunyi berkali-kali.
“Mungkin. Kau mendengar bunyi pistol itu? Itu bukan berasal dari bagian sound mixing, tapi itu adalah suara pistol ASLI!” jawab Risa sambil menjelaskan tentang suara pistol tadi.
Aku mulai merasa tidak enak. Bagaimana pistol berisi peluru bisa lolos ke sebuah pertunjukan drama? Aku ingin sekali ke balik layar. Tentu saja, para panitia yang juga murid kelas 12 tidak memperbolehkanku masuk. Risa, senior yang ada di toilet bersamaku menyuruhku untuk mengunci pintu toilet.
“Aku mengenalmu, pasti kau Hilda ‘kan?” lanjut Risa sambil mengambil sesuatu di dalam envelope bag-nya.
“Jadi, selama drama berlangsung kau berdiam di toilet?” tanyaku dengan ragu.
“Ya, tadinya ada Violet dan Janet beberapa menit sebelum adegan penembakan itu. Saat itu juga, perasaanku mulai sangat tidak enak. Makanya, aku tetap di sini”
Lalu, ia mulai menceritakan apa yang akan terjadi setelah Marlene tertembak.
“Akan ada sesuatu yang horror dan terjadi di dunia nyata. Aku baru saja menemukan buku coklat misterius ini di dalam lemari janitor. Aku akan membacakannya”
 Ia membuka buku berwarna coklat yang baru saja ia temukan di toilet. Risa mulai membacakan halaman pertama dari buku itu.
13 Juni 2012, aku akan memulai sebuah operasi; membunuh habis seluruh murid kelas 12. Baik dari kelas IPA, IPS, Bahasa ataupun Akselerasi. Karena mereka meremehkanku pada hari itu. Dan, kusebut operasi tersebut yaitu “Omen of the Opera”.
 “Maksud dari buku itu, akan ada pembunuhan massal seperti pembunuhan presiden Abraham Lincoln? Ia dibunuh saat menonton pertunjukan drama, kan?” ku mulai bertanya.
“Ya, aku menduga bahwa pistol yang digunakan Gilbert itu memang diisi peluru. Namun, saat aku berbicara kepada salah satu panitia beberapa jam sebelum pertunjukan, ia menjamin bahwa pistol itu hanyalah pistol mainan biasa.” Jawab Risa.
Lalu, Risa melanjutkan bacaannya tadi.
Agar polisi atau siapapun tidak mencari jejak tentang semua ini, aku sudah meracuni security dan pihak-pihak panitia drama dengan sirup rasa raspberry yang dicampur dengan sianida. Tak hanya itu, aku memberikan obat tidur dan sianida tersebut secara acak di setiap sirup yang diberikan kepada para penonton sebagai awal-awal dari pembunuhan supaya aku bisa membantai semuanya dengan mudah. Agar mereka semua tidak bisa lolos, aku sudah mengunci seluruh ruangan di auditorium 2 menit setelah tirai ditutup. Kau tahu? Sekolah ini letaknya cukup jauh dari jalan yang penuh keramaian, maka pada malam itu juga sepertinya tidak akan ada orang yang melintasi jalan masuk ke sekolah. Letak sekolah ini persis di jalan buntu.
Perasaanku makin tidak enak. Buku tersebut ternyata berisi sebuah rencana pembunuhan massal. Lalu, siapa pembunuhnya? Aku menyembunyikan perasaanku itu dan meminta Risa untuk membacakannya lagi.
Tak hanya itu, aku menukar pistol mainan yang digunakan untuk pertunjukan dengan pistol asli. Karena Ami telah menindas Maya, dan juga di saat yang tepat itulah Gilbert akan melakukan adegan penembakan. Gilbert kugunakan sebagai boneka untuk membalas dendamku kepada Ami.
“Siapa Maya?”
“Salah satu murid kelas 12 yang meninggal 5 bulan yang lalu akibat dibully oleh Ami dan teman segengnya. Ia bunuh diri”
Aku dan Risa mulai mendengar suara teriakan yang sangat keras. Suara teriakan campuran pria dan wanita. Mereka sepertinya akan dibunuh. Lalu, Risa memintaku untuk tidak keluar dan masuk ke bilik toilet dan menguncinya. Untung saja toilet di auditorium sangat tertutup.
“Boleh kulanjutkan lagi ceritanya?” tanya Risa
Aku mempersilahkan Risa untuk membacanya lagi, masih dengan suara yang pelan.
Untungnya, tak ada satupun guru yang akan hadir pada malam itu. Jika hal ini terjadi, mereka akan memanggil polisi dengan segera. 30 menit sebelum pertunjukan, aku akan mencabut seluruh kamera pengawas di dalam dan luar auditorium, rekamannya juga kusimpan. Dan juga, jika salah satu targetku masih lolos, aku punya rencana final: MEMBAKAR AUDITORIUM SEKOLAH. Seluruh barang yang kugunakan juga akan ikut terbakar saat rencana finalku ini sebagai penghilangan barang bukti. Tak ada satupun orang yang akan tahu apa yang terjadi pada malam itu. Dan, aku akan kabur secepat mungkin setelah aku puas dengan rencana balas dendam ekstrim ini.
Terima kasih kepada guru-guru yang mendidikku dan mengakhiri ini dengan meremehkanku pada kejadian itu. Dan, AKU AKAN MEMULAI SEBUAH PERISTIWA SANGAT KELAM SEPANJANG SEJARAH SMA INI; TAHUN 2012 TIDAK ADA SATUPUN MURID YANG LULUS KARENA MEREKA SUDAH HABIS!
Au revoir, A.
Setelah membaca paragraf terakhir dari rencana pembunuhan itu, aku merasa ingin mati. Aku sangat ingin keluar dari toilet. Tetapi, toilet inilah yang menjadi satu-satunya tempat paling aman untuk bisa selamat. Aku mulai berpikir, apakah orang-orang yang ada di balik layar sebelumnya sudah dibunuh sesaat adegan penembakan Marlene? Lalu, siapakah A?
Tiba-tiba, aku dan Risa mendengar suara pintu masuk toilet wanita didobrak oleh seseorang. Risa masih memintaku untuk tenang. Beberapa detik kemudian, suara itu tidak terdengar lagi.
“Kurasa, kita harus keluar sekarang. Ia akan memulai pembakaran auditorium” bisik Risa.
***
Aku dan Risa berjalan mengendap-endap. Aku melihat pintu masuk utama auditorium terbuka sedikit. Aku akan memasuki ruangan itu, tiba-tiba Risa mencegahku untuk masuk ke dalam “Jangan! Dia bisa saja mengetahui gerak-gerik kita!”
Dari luar pintu masuk, aku melihat sosok orang berjubah hitam sedang menusuk 3 orang penonton. Ketiganya sudah mati duluan, sebelum pisau itu menusuk tepat di jantung mereka. Aku menutup mataku pelan-pelan, tak sanggup melihat adegan sadis secara nyata ini.
Risa memintaku untuk menitipkan buku coklat itu ke dalam tasku. Tasku sama lebarnya dengan tas milik Risa, jadi bukunya pas dimasukkan ke dalam tas.
Beberapa menit kemudian, sosok berjubah hitam itu langsung ke balik panggung untuk mengambil sesuatu. Risa menyuruhku untuk tetap di luar pintu masuk. Di saat itu juga, Risa memutuskan untuk mencoba mempertaruhkan nyawanya dengan memasuki ruang auditorium. Aku mulai berpikir, apa yang akan ia lakukan di ruangan itu? Mencoba mengevakuasi penonton yang masih hidup? Atau mencoba menyelamatkan benda yang ditinggalkan pemilik-pemiliknya setelah tewas dibunuh atau keracunan? Kesempatan mencari korban yang masih hidup sangat kecil, dikarenakan ada beberapa penonton yang meminum sirup bercampur obat tidur yang efeknya berlangsung sekitar 9 jam.
Aku masih menunggu di luar, dengan penuh keraguan. Apakah aku harus secepatnya melaporkan kejadian ini ke polisi? Aku tidak bisa melakukannya. HP yang akan menjadi senjataku pada saat tegang seperti tertinggal di rumah. Bagaimana dengan yang lain? Aku tidak ingin melanggar perintah Risa demi keselamatanku sendiri. Keluar dari sini? Aku akan menyesal di kemudian hari jika aku meninggalkan seorang senior yang baru-baru ini kukenal.
Sudah 15 menit telah berlalu, Risa masih belum keluar. Tiba-tiba, aku mendengar suara teriakan. Itu, adalah RISA!
“HILDA! SECEPATNYA KAU KELUAR DARI SINI! IA AKAN MENCOBA UNTUK MEMBUNUHKU DAN JUGA KAU! TAK APA-APA KAU MEMECAHKAN ALARM KEBAKARAN! AKU SUDAH MENCIUM BAU ASAP DARI API YANG BERASAL DARI BELAKANG PANGGUNG!”
Bodohnya dia, ia memberitahuku dengan berteriak. Itu bisa memancing orang lain yang ada di dalam ruangan itu. Mungkin saja, sosok lain itu adalah… Yang merencanakan semua ini?
Aku langsung mengambil kerikil yang terdapat di tanaman hias dekorasi pintu masuk auditorium, dan melemparnya ke alarm kebakaran. Tepat sasaran! Alarm kebakaran berbunyi, dari luar pintu masuk aku melihat Risa di saat-saat terakhirnya. Tak hanya itu, air hujan dari langit-langit mulai berintik-rintik untuk memadamkan api.
“Jadi, kau yang bersembunyi di balik toilet itu? Dan, kau secara tidak sengaja menemukan buku rencana itu. Kembalikan kepadaku atau pistol ini yang akan membunuhmu!” sosok berjubah hitam itu mengancam Risa sambil mengambil pistolnya.
“Lihat di balikmu, ada api yang akan membakarmu sebelum ku pergi!” Risa menyangkal perkataan sosok berjubah hitam ini. Tetap saja si sosok misterius itu tidak mau kabur.
Aku yang masih di luar, merasa sangat ketakutan. Api itu sudah merambat ke kursi-kursi penonton dan sebagian penonton yang sudah tewas, terbakar oleh api beserta barang-barang pribadinya. Di saat itu pula, secara sengaja sang sosok berjubah hitam menembak pistolnya ke arah Risa. TEPAT DI JANTUNGNYA.
DOR! Suara itu berbunyi sangat keras. Api sudah sampai ke luar ruangan auditorium, tempat ku bersembunyi satu-satunya ini. Hujan dari langit-langit dalam dan luar ruangan auditorium masih berlangsung. Di sekelilingku saat ini, adalah API! Aku tak tega melihat semuanya terbakar, ini seperti kejadian bom Atom Hiroshima & Nagasaki. Persis di mataku.
***
Sosok berjubah hitam itu, menatapku di jarak sekitar 20m secara diam-diam. Aku saat ini berada di dekat pintu keluar. Aku merasa panik. Badanku juga terasa panas.
TIDAK! AKU TIDAK BOLEH PANIK BEGITU SAJA. Aku mendobrak pintu keluar itu. Untung saja pintunya tidak terkunci. Apakah, dia yang membunuh semua orang ini lupa mengunci pintu keluar satu-satunya ini? Ia mengetahui bahwa aku kabur dari neraka yang ia buat.
Aku berhasil keluar dari nerakanya. Kemudian, aku berlari menuruni tangga. Cerobohnya aku, hampir saja terpeleset dari tangga karena aku basah kuyup akibat hujan di dalam ruangan auditorium. Sampai di luar gerbang sekolah, IA MUNCUL KEMBALI.
Dengan segera, aku mencari jalan keluar. Gerbang utama sekolah sudah dikunci olehnya. Secepat mungkin, aku berlari menuju pintu keluar yang berada di dekat kantin sekolah. Merasa tidak puas, ia justru mengeluarkan pistolnya. Hasilnya? ME-LE-SET.
Sosok berjubah hitam dengan sejahat-jahatnya tertawa, sambil melihatku lebih tajam “Ahem, jadi ada adik kelas yang ikut nonton drama ini, ya? BERSIAPLAH UNTUK MATI!”
Untung saja, jalan menuju kantin sekolah sedikit jauh dari auditorium. Layaknya anjing dan kucing, aku dan dia berlari. Aku berlari menyelamatkan diri, sedangkan dia mencoba membunuhku. KARENA AKU ADALAH TARGET TERAKHIRNYA.
Aku bersembunyi di salah satu toko, dan menemukan pintu ke luar dibaliknya. Aku melihat dari belakang bahwa dia masih mau mendekatiku, dan mengeluarkan pistolnya. Hampir saja aku tertembak olehnya. Saat ia masih mencari di mana diriku, aku memutuskan untuk lari.
Letak sekolahku yang berada di jalan buntu membuat jarak ke kantor polisi terdekat menjadi lebih jauh. Sekuat tenaga aku berlari menuju kantor polisi, tepat pada pukul 11 malam saat ini. Setelah keluar dari jalan menuju sekolah, aku melihat tanda kantor polisi 500m dari jalan.
Dengan rasa sangat cemas, sang sosok berjubah hitam masih saja mengejarku. Kali ini, ia memegang pisau.
“PISAU INI, AKAN MENJADI AMUNISI TERAKHIRKU! RASAKAN INI!”
Aku hampir tertusuk pisau. Sekuat tenaga aku menyebrang ke seberang jalan. Sesampainya di seberang jalan, sang jubah hitam itu malah tertabrak oleh truk yang sedang melintas. Dan di saat itu pula…
Aku mulai jatuh di seberang jalan.
Di saat aku jatuh, aku mengalami mimpi yang sangat buruk. Meskipun pada kenyataannya sang sosok berjubah hitam sudah musnah, ia masih mengejarku di alam mimpi.
***
Esok harinya, aku berada di ranjang rumah sakit. Di sebelah kananku, ada kakak kelas yang sepertinya ku tidak kenal. Hanya dia yang datang pada saat itu. Bahkan, kakakku yang tinggal serumah denganku masih belum pulang dari pendakian.
Kakak kelas itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi setelah aku jatuh.
“Akhirnya, kau sudah sadar. Pada malam itu, kau terjatuh saat ada truk menabrak seseorang berjubah hitam dan akhirnya tewas. Supir truk itu memang secara tidak sengaja menabrak dia, dan juga melihat kau. Lalu, ia membawamu dan sang sosok jubah hitam secepatnya ke rumah sakit.”
Aku langsung memikirkan tentang sang supir truk yang membawaku dan si jubah hitam ke rumah sakit. Sepertinya, dia ada di kantor polisi sekarang karena tabrakan itu. Sang kakak melanjutkan ceritanya lagi sambil terisak-isak.
“Untung saja, aku tidak ikut prom berupa pertunjukan drama itu. Aku sedang sakit gigi pada malam itu dan berdiam di rumah. Tetapi, aku sangat bersedih setelah mendengar hampir seluruh sahabatku tewas akibat prom mengerikan itu”
“Kakak, kau ini siapa?” tanyaku. Aku mulai duduk.
“Aku Thea, sekelas dengan Tiana. Tiana ‘kan yang mengantarmu ke pesta itu? Aku sudah mengetahui seluk-beluk peristiwa itu. Tak semua orang yang datang ke pesta itu. Mungkin saja ada orang lain yang tidak ikut.” Jawab Thea sambil mengambil sehelai tisu.
“Tiana? Kurasa dia pergi setelah mengantarkanku ke sekolah. Dia yang memakai gaun hijau muda itu, ‘kan?” jawabku.
“Kau tau siapa di balik si jubah hitam itu? Salah satu di antara sekitar 50 murid kelas 12 yang tidak ikut ke pesta. Mungkin, dia adalah Tiana?”
“Mungkin saja. Saat aku bertemu dengannya, ia tampak murung…” kataku.
Auditorium sekolahku terbakar habis. Tim pemadam kebakaran sudah mengevakuasi seluruh jasad kakak kelasku dan memadamkan api. Mereka juga masih melakukan evakuasi. Peristiwa ini dengan cepat diberitakan oleh seluruh media.
Lalu, apa yang terjadi dengan sang sosok berjubah hitam yang akan membunuhku itu? Sudah pasti ia tewas tertabrak truk. Dan, pihak keluarga darinya sudah menangani semua masalah ini.
Setelah peristiwa sangat kelam ini terjadi, aku memutuskan untuk pindah sekolah saat tahun ajaran baru. Ini demi keamanan dan sebuah penghilangan trauma atas kejadian ini. Tentang buku coklat yang konon milik sang sosok berjubah hitam itu, aku menyimpannya baik-baik sebagai barang bukti untuk membantu investigasi.
Aku bersama Thea, akan membantu tim investigasi untuk kasus ini setelah semuanya baik-baik saja.
To Be Continued...
2013 by Medarain. All rights reserved.


No comments:

Post a Comment

RULES:
1. NO HARSH!
2. NO OOT!
3. NO CHIT-CHAT
4. NO HENTAI (?)
5. NO PROMOTING!
6. NO SPAM!
7. NO ANONYMOUS!

I appreciate what ye blabberin' 'bout and thank yer kind attention. But if you don't I'll put ye on Davy Jones' Locker (?).
-Medarean